Sabtu, 27 September 2014

galeri cerpenku


Cinta=Karya

Aku terbangun dari mimpiku yang indah, ya mungkin didalam mimpi ini kehidupan berpihak padaku aku bisa menuliskan skenario mimpiku sendiri. Tapi tampaknya dunia nyata tak sama dengan dunia mimpi didunia nyata aku tak dapat menulis sendiri skenario hidupku, skenario kehidupanku diatur oleh tuhan, tuhan telah menuliskan skenario buat setiap makhluk hidupnya dan setiap makhluk hidup mempunyai peran tersendiri dalam cerita ada yang bahagia ada pula yang menyedihkan, ya mungkin yang terakhir itulah skenario hidupku yang kujalanni didunia nyata ini, pahit, pedih, dan tidak menyenangkan. Pernah aku menyalahkan tuhan atas apa yang aku alami, hidupku sangat membosankan tapi dengan berjalannya waktu aku sudah tak mempermasalahkan soal itu lagi, aku sekarang mengerti jika kita sudah mengetahui nasib kita buruk dan kita mempunyai kemauan untuk merubahnya dan menyerahkan kepada allah, pasti tuhan akan mendengar kemauan kita. Itulah yang kualami saat ini.
Kubuka pintu kamarku, kudapati papa sudah duduk dikursi rotan tuanya bersama koran dan secangkir kopi diatas meja yang sudah siap menemani pagi papa. Aku melewatinya tanpa menyapanya sambil mengusap mata dan menguap. Sesekali aku berbalik badan untuk melihat papa, dalam hati aku berkata “wah tampaknya papa telah dihipnotis pagi ini”. Kulangkahkan kakiku menuju kamar mandi yang berada pada bagian paling belakang rumah (ya iyalah paling belakang kalo bagian depan itu ruang tamu) hehe. Sebelum kekamar mandi aku melewati dapur, tampaknya mama sedang memainkan penggorengan, mamaku jago banget kalau soal masak-memasak pokok makananya tuh ajib bingit, mama menoleh kearahku
“sayang baru bangun? Cepetan mandi keburu siang!”
“hhhmmtt” jawabku singkat
            Tampaknya aku mencium bau harum yang lezat, aku mengendus-ngendus seperti kucing mencari bau harum itu. Ternyata bau itu berasal dari makanan mama yang telah masak, ada tiga potong tempe yang berada dipiring diatas meja, aku berencana untuk mengutil makanan rakyat tersebut, dan langsung aku mengambil jurus kucing mengambil tempe. Wah jurusku tampaknya berasil kubawa dua potong tempe itu kedalam kamar mandi. Sekitar setengah jam aku mandi, lama bingitz ya mandinya, biasa kalau udah ketemu kamar mandi pasti males keluar biasa cewek hehe. Ya seperti bidadari yang diceritakan dalam cerita jaka tingkir tapi bedanya bidadarinya ini udah modern gak perlu mandi disungai cukup dikamar mandi ini. Setelah mandi aku mengenakan seragamku dan jilbab sekolahku dan menyantap satu piring nasi goreng buatan mama. Dan langsung tancap gas menuju mobil yang sudah terpakir untukku. Hehe mobil temen ku.
            “eh zahra loe ikut lomba cerpen buat ultah sekolah gak?”      
            “gimana ya.. aku lagi males nulis nih”
            “pasti lagi galau lagi?”
            “he’em nih.”
            “masalah rahman lagi?”
            “iya nih, gue kangen sama dia”
            “loe itu gimana sih, kalo loe sayang sama dia yo mbok bilang aja. Apa susahnya sih”
“gengsi dong, masak cewek ngungkapin perasaanya ke cowok kalo gue sih ogah banget. Harga diri bro”
“hah harga diri?? Gak salah denger gue. Bukanya cewek sekarang banyak yang ngungkapin perasaanya dulu ke cowok”
“itu kan cewek diluar, kalau gue beda, gue pantangan kalau ngungkapin perasaan atau nembak cowok duluan bro. Walaupun aku suka sama seseorang aku akan memendam rasa itu, biar cowok itu yang datang kegue. And sekarang gue udah menemukan tambatan hati gue yang membawaku berkarya dan diakui oleh dunia. Ya seperti inilah, percayalah bahwa semua karya yang kutulis itu sebab dari cinta. Aku akan menunggu cintanya sambil mengejar impianku menjadi penulis terkenal”
“oke.. kau sering banget cerita itu kegue. Ini intinya loe jadi ikut lomba kagak sih?”
“iyalah gue ikut. Demi cita-citaku”
“bilang aja mau dari tadi, gak usah gue denger cerita loe, sampe mulut loe berbusa-busa gitu, capek gue dengerinnya. Tenang kalau entar beneran ikut gue sampein ke tim jurnalis sekolah deh”
“hehe maaf terbawa suasana, oke entar malem gue ngelembur nulis”
Oh ya ngomong-ngomong soal hoby, hobyku menulis dan membaca aku suka menulis karangan seperti cerpen, novel, dan artikel. Sebenarnya aku tak tahu kapan aku menyukai menulis karangan, tapi seingatku hobyku ini kutekuni sejak aku duduk dibangku MTS dulu. Aku ingat betul saat aku merasakan kisah kasih sekolah dulu (cinta monyet) orang-orang bilang sih seperti itu. Aku dulu suka sama sesosok cowok namanya Rahman, dia satu kelas denganku waktu kelas delapan menurutku dia adalah sosok pria idamanku. Aku tak tahu mengapa aku bisa menyukainya. Hanya satu alasan, dia membuatku menjadi baik dan mejadikanku sesok wanita yang diakui oleh dunia karena cinta, yah walaupun aku tak dapat memilikinya sampai sekarang, tapi semua itu gak jadi masalah bagiku, yang penting aku bisa menyukainya dan mengahasilkan karya-karya karena dia. Rahman itu sosok pria yang sangat baik hati, murah senyum, dan rajin ibadah, dari sikapnya itu yang membuatku yakin bahwa dialah  pasangan yang tepat bagiku J. Oh ya sikapnya itu sama yang dimiliki idolaku siapa lagi kalau bukan nabi Muhammad SAW beliau adalah sosok laki-laki yang diutus allah untuk menyampaikan wahyu allah yaitu kitab suci Al-Qur’an. Banyak yang kudengar dari cerita-cerita beliau kisah yang sangat menyentuh hati. Dalam menjalani kehidupan keluarganya beliau mempunyai 12 istri yang sholehah keduabelas istrinya itu adalah sayyidah khotijah, sayyidah aisyah, sayyidah hafshoh, ummu salamah, ummu habibah, sayyidah saudah, sayyidah zainab, sayyidah zainab, sayyidah maimunah, juwairiyah, sayyidah sofiyah, dan maria qibtiah.  Nabi muhammad sangat menyayangi istri-istrinya, bersikap romantis, lemah lembut, menghargai derajat wanita, dan mempunyai sikap adil terhadap semua istri-istrinya. Wah pokok beliau pria yang di idam-idamkan banyak wanita, beda dengan cowok-cowok zaman sekarang mereka sering menyakiti hati wanita, sering merendahkan kaum wanita mereka semua tidak tahu bahwa wanita itu diciptakan bukan untuk disakiti tapi disayanyi. Aku heran dengan cowok-cowok zaman sekarang tapi ya udah mau gimana lagi realita dalam kehidupan seperti itu, tapi sih menurutku cowok yang mempunyai sikap yang hampir mirip seperti nabi Muhammad adalah R A H M A N. Eh jangan bilang-bilang ya soal ini gak ada yang tau kalau aku menyukai Rahman hanya Rio yang tau temenku yang kuajak ngobrol dimobil tadi.
Tampaknya malam ini dingin sekali aku lupa untuk menutup jendela kamarku kusambar jaket tebalku ku selimutkan dibadanku dan mengarahkan langkahku kejendela kayu itu. Malam ini bintang bertaburan dilangit kuarahkan pandanganku kelangit yang ditaburi gemerlap cahaya bintang, aku tau diantara gemerlap cahaya itu ada satu cahaya yang paling terang yaitu kamu ingin rasanya aku menggapai bintang itu tapi bibir ini mulai bergetar saat angin manyentuh dengan lembutnya. Kututup jendela itu dan langsung mengarah pada kursi kayu yang sebelumya kududuki. Entah sudah satu jam lamanya aku duduk dikursi ini, tapi tak ada satupun ide yang terbesit dalam otaku untuk judul lomba cerpen sekolahku. Layar monitor pada laptopku pun lama-lama mulai menjadi mati gara-gara gak kusentuh sama sekali pada mousenya. Kusangga kepalaku diatas meja dan sambil memikirkan judul apa yang pas untuk cerpenku. Kuarahkan pandanganku pada setumpuk buku-buku karanganku dulu yang menjadikanku diakui oleh dunia yang berada di pojok meja belajarku. Kubuka lembaran demi lembaran yang usang dimakan waktu kujelajahi kembali cerita cintaku lewat buku-buku ini. Entah mengapa setelah membaca buku-buku itu jemari tanganku langsung menari diatas keyboard pada laptopku aku menulis puisi yang kuberi judul“Cinta=Karya” . dalam otakku aku bertanya mengapa aku menulis puisi? Padahalkan lomba besokan cerpen tapi tampaknya jemariku tak menghiraukan pertanyaan itu.
Cinta=Karya
untaian kata telah
ku ukir diatas kertas
goresan tinta angan-angan
telah kuluapkan diatas
lembaran putih bergaris
rasa suka, sayang, cinta
hanya bisa ku ungkapkan dalam karya
dengan cinta aku berkarya
dengan cinta aku bertemu tokoh ternama
dengan cinta aku mendunia
dengan cinta aku bisa mewujudkan cita
pernah aku bertanya pada cinta
apa yang aku dapat dari cinta
dan cinta menjawab
Bercinta=Berkarya










Setelah selesai puisi itu jadi, baru aku menyadarinya, puisi ini akan kujadikan bahan cerpenku, saat itu juga kuketik ide-ide yang terngiang-ngiang dikepalaku, kukerjakan cerpen ini semalaman suntuk hingga aku tak merasakan kantuk di mataku dan sesekali aku tersenyum sendirian saat membanyangkan wajahnya aku berharap setelah kuselesaikan cerpen ini aku bisa tidur dengan nyenyak dan memimpikan hal-hal yang indah tentangnya J.